Fokusberita.co ◊ Sabtu, 02 Oktober 2026.
Kota Blitar – Pengembangan pariwisata ramah muslim di Kota Blitar mulai diarahkan tidak sekadar mengejar predikat atau penghargaan.
Pemerintah Kota Blitar melihat sektor tersebut sebagai pintu masuk untuk memperluas ekosistem ekonomi syariah yang melibatkan destinasi wisata, pelaku UMKM, kuliner hingga layanan pendukung.
Arah pengembangan itu mendapat pengakuan setelah Kota Blitar meraih juara tiga kategori Pariwisata Ramah Muslim dalam Semarak Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa Timur 2026 di Surabaya, Minggu (27/9/2026).
Kepala Bagian Perekonomian dan Kesra Setda Kota Blitar, Gigih Mardana, mengatakan capaian tersebut tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak dalam membangun sektor pariwisata yang lebih mendukung kebutuhan wisatawan muslim.
Menurutnya, konsep wisata ramah muslim memiliki cakupan yang cukup luas.
Bukan hanya destinasi yang menjadi perhatian, tetapi juga fasilitas yang membuat wisatawan merasa lebih nyaman selama berada di kawasan wisata.
Beberapa indikator yang diperhatikan antara lain keberadaan tempat ibadah, kemudahan memperoleh air, kebersihan lingkungan, kenyamanan kawasan hingga ketersediaan makanan yang bersih dan sehat.
Penilaian terhadap Kota Blitar sendiri dilakukan dalam rentang Juli hingga September 2026.
Tim penilai juga melakukan asesmen secara langsung terhadap sejumlah destinasi untuk melihat kondisi fasilitas serta dukungan terhadap kebutuhan wisatawan muslim.
Salah satu aspek yang diperhatikan yakni akses wisatawan menuju sarana ibadah dan keberadaan musala di kawasan destinasi.
Gigih menyebut penghargaan tersebut menjadi pemacu agar pengembangan ekonomi syariah di Kota Blitar dilakukan secara lebih luas.
«“Penghargaan ini adalah apresiasi atas kerja keras dan sinergi dari semua pihak. Tugas kita adalah sama-sama meningkatkan ekonomi syariah sebagai sebuah ekosistem agar masyarakat merasakan dampak positifnya,” kata Gigih.»
Wisata Sejarah Jadi Modal
Kota Blitar memiliki sejumlah destinasi yang dinilai dapat menjadi bagian dari pengembangan pariwisata ramah muslim.
Di antaranya kawasan Makam Bung Karno, Sumber Udel, Masjid Ar-Rahman serta berbagai destinasi yang memiliki keterkaitan dengan sejarah dan wisata religi.
Potensi tersebut dapat dikembangkan bersamaan dengan sektor pendukung lainnya.
Salah satunya melalui penguatan kuliner halal dan produk UMKM yang memiliki karakter khas Kota Blitar.
Dengan begitu, aktivitas wisata tidak hanya berhenti pada kunjungan ke destinasi, tetapi juga membuka ruang bagi perputaran ekonomi masyarakat.
Pengembangan ekonomi syariah juga tidak dibatasi pada sektor pariwisata.
Pemkot Blitar melihat peluang serupa pada industri halal, perbankan syariah, Baitul Maal wa Tamwil (BMT), pembayaran digital, e-commerce halal hingga pemasaran produk UMKM melalui platform digital.
Karena itu, pelaku usaha pariwisata dan UMKM didorong terus meningkatkan kualitas produk sekaligus melakukan inovasi.
Sertifikasi halal untuk produk kuliner menjadi salah satu langkah yang dinilai penting untuk memberikan kepastian bagi konsumen.
Di sisi lain, pengembangan suvenir dengan identitas lokal juga dapat menjadi peluang baru bagi pelaku usaha.
Dengan penguatan berbagai sektor tersebut, capaian Kota Blitar dalam FESyar Jatim 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah penghargaan, tetapi menjadi momentum memperluas manfaat ekonomi syariah bagi masyarakat.



